Banda Aceh | WartaPenalita - Peringatan Hari Damai Aceh yang berlangsung di halaman kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sempat diwarnai kericuhan yang memukul hati masyarakat yang hadir untuk merayakan momen bersejarah perdamaian di Tanah Rencong, Senin, 15/08/26
Acara yang seharusnya berlangsung khidmat, penuh doa, dan syukur itu tiba-tiba berubah tegang saat sejumlah peserta dari kelompok berbeda terlibat adu mulut hingga dorong-mendorong. Suasana yang semula damai seketika berubah panas, memancing kepanikan di antara warga, tokoh agama, dan jamaah yang memadati area masjid.
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, kericuhan bermula saat salah satu pihak menyampaikan pernyataan dan menampilkan simbol yang dianggap menyinggung perasaan pihak lain. Perbedaan pandangan terkait narasi dan makna peringatan Hari Damai Aceh memuncak di tempat, memicu reaksi emosional yang tak terkendali.
"Kami datang ke sini untuk berdoa dan mengenang berakhirnya konflik, tapi malah disuguhi pemandangan yang memilukan. Di rumah Allah, tempat seharusnya damai, malah terjadi keributan," ungkap salah seorang warga yang menyaksikan kejadian dengan mata berkaca-kaca.
Petugas keamanan dan beberapa tokoh masyarakat segera turun tangan melerai dan menenangkan kedua belah pihak. Setelah melalui upaya mediasi yang cukup lama, suasana akhirnya dapat dikembalikan kondusif dan acara dilanjutkan kembali dengan pengamanan yang lebih diperketat.
Kericuhan ini menyisakan keprihatinan mendalam bagi masyarakat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol persatuan dan kebanggaan seluruh anak bangsa di ujung barat Nusantara. Banyak pihak berharap perbedaan pandangan apa pun dapat diselesaikan melalui dialog yang santun, menjaga adab, dan tetap mengutamakan persaudaraan sesama anak bangsa.
Hari Damai Aceh sendiri diperingati setiap tahun untuk mengenang perjanjian damai yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Aceh, sebuah momen yang seharusnya selalu dijaga dengan keteduhan hati dan semangat persatuan.


