Robi Sugara
Aku adalah tembune yang berakar pada tanah ini
Berpijak pada ingatan leluhur
Berdamping danau abadi di dalam lembah
Hidup dari wangi biji kopi yang ditanam dengan cinta
Aku adalah tembune yang kini berdarah luka
Menjadi saksi lut tawar yang tak lagi memantulkan hijaunya
bukit
Melihat jejak gundulnya hutan
Cahaya yang terpancar mulai redup
Aku adalah tembune yang hampir hilang jalan
Yang menyaksikan syair didong mulai samar terdengar
Irama yang mulai hilang dibawa kepongahan jaman
Anak-anak tak lagi gemar menepuk tangan yang bertingkah
Tersisa tua bangka dengan suara gemetar melantunkan nyanyikan
pujian
Aku adalah tembune berdarah luka
Melihat wangi aroma pahit yang menjadi mutiara
Tertanam ditanah kering yang mulai meronta
Meminta makan karna alam tak lagi memberi percuma
Batang perlahan melayu dibawah terik yang tak lagi dingin
Banda Aceh, 27 Juni 2026
