![]() |
| SEHELAI BENANG KERAWANG |
Tik, tik, tik, hujan turun dengan
derasnya membasahi tanah serta dedaunan kopi yang mulai bermekaran. Di balik
suara hujan yang menggemuruh, terdengar lantunan indah bait-bait Didong dan
irama-irama syahdu yang keluar dari mulut Ceh Candra.
Ia duduk di atas tikar pandan yang sudah mulai usang. Di
bahunya, Opoh Kerawang melampai menutupi tubuhnya yang sudah mulai dimakan
usia. Jemarinya yang sudah mulai keriput meraba tekstur kasar di atas Opoh
Kerawang itu. Dari mulutnya, keluar bait indah tentang warna merah pada
kerawang. Melambangkan keberanian masyarakat gayo.
Visual Gayo nya terasa begitu sempurna,
perpaduan antara suara merdu bait Didong dari Ceh Candra, Opoh Kerawang yang
menututupi tubuhnya, serta pukulan bantal yang memiliki irama senada terlihat
begitu indah. Bait demi bait ia lantunkan dengan sangat merdu dan penuh dengan
penghayatian di dalam dirinya membuat siapa saja yang mendengarnya seakan
tenggelam oleh irama syahdunya.
Suara indahnya seakan menelan suara
hujan yang sedang membasahi Tanoh Gayo. Pukulan bantalanya yang senada, tak,
tung, tak, adalah suara yang timbul bukan dari kerasnya pukulan, melainkan dari
ledalaman rasa yang di rasakan pemain Didong saat memukul bantalnya. Di tengah
harmoni yang sedang di lantunkan, Ceh Candra menyisipkan satu bait yang membuat
bulu kuduk meremang:
“Ike
sara benanggere sanggup muneten beban. Tapi ike I jalin ken Opoh Kerawang, nge
pasti pas mujege rembege aria bengi ni kuyu” (jika satu benang tidak
sanggup menahan beban. Tapi jika jika
dibuat kain kerawang sudah pasti melindungi badan dari dinginnya angin)
Suara nya bergetar saat ia melantunkan
bait tersebut. Makna syair itu rasanya seperti menghantam batinnya sendiri.
Sehelai benang memang rapuh, ia akan putus jika menahan beban sendirian. Tetapi
ketika benang-benang itu telah menyatu saling mengikat menjadi motif-motif
kerawang di atas kain ia akan mampu menjadi perisai dari dinginnya malam di
pegunungan Gayo yang menusuk tulang. Itu juga mengingatkan akan pentingnya
kebersamaan bagi masyarakat Gayo. tidak ada kopi yang tumbuh subur tanpa do’a
tetangga, dan tidak ada Didong yang berirama tanpa sahutan kawan seiring.
Setelah selesai dengan Didongnya, Ceh
Candra dan teman-teman Didong nya segera bangkit dari duduknnya dan mulai
berjalan menuju dapur. Saat mendekati dapur, sudah tercium aroma segar dan asam
dari Masam Jing yang sedang dimasak oleh istrinya Ceh Candra, aroma Kopi Gayo
memenuhi ruangan kecil itu. Di hadapan mereka terlihat meja kayu tua yang sudah
usang namun bersih, diatasnya terhidang beberapa piring yang berisi
masakan-masakan khas Gayo: Masam Jing, Pengat Ikan Depik, Empan, dan tentu saja
Kopi Gayo yang masi panas di tengah dinginnya suasana hujan.
Suasana dapur yang sederhana itu terasa
sangat hangat walau udara di luar sangat dingin, kebersamaan mereka membuat
suasana yang tadinya terasa dingin menjadi semakin hangat. Suara canda dan tawa
ria memenuhi ruangan dapur yang hanya berdindingkan kayu jati itu. Gelakan
serta candaan garing khas bapak-bapak itu membuat tawa pecah di tempat yang
sangat sederhana itu. Mereka mengambil masing-masing piring untuk wadah mereka
makan.
Makanan yang disajikan terasa lezat
saat mereka menyendokkannya ke mulut mereka. Bukan hanya dari rasa Ikan Depik
khas Danau Lut Tawar yang lezat di campur dengan rempah-rempah yang kaya dengan
rasa, tetapi juga kebersamaan mereka membuat rasanya semakin terasa lezat.
Masam Jing dengan rasa yang asam dengan sedikit pedas di campur dengan nasi
yang masih hangat sangat cocok di makan di saat suasana dingin seperti itu.
Empan yang rasanya gurih membuat sempurna rasa makanan mereka.
Di tengah hangatnya suasana dapur yang
masih dibarengi dengan obrolan ringan, tiba tiba Ceh Candra terdiam. Tangannya
yang baru saja hendak menyuapkan nasi terhenti di udara. Rasanya seperti nafsu
makannya hilang begitu saja. Ia tenggelam dalam lamunannya menatap piring yang
masih penuh dengan makanan, berfikir keras tentang sesuatu yang jauh di luar
dinding dapur itu. Hal itu tentu saja membuat teman-temannya merasa aneh. Satu
persatu dari mereka ikut meletakkan sendok, mata mereka tertuju pada Ceh Candra
yang kini nampak cemas dan gelisah. Suasana yang tadinya di penuhi dengan suara
tawa kini mendadak senyap, hawa dinginnya mulai terasa menusuk badan. Suara
rintikan hujan menghantam atap seng dan detakan jam yang kini seolah menjadi
lebih keras karena keheningan itu.
“ama, hanati lagu pebening? Hana si
pikiri, ama?” (ama, kenapa tiba-tiba diam? Apa yang ama pikirin?) Tanya
istrinya yang mulai khawatir melihat Ceh Candra yang tiba-tiba melamun.
Ceh Candra tesentak, tersadar dari
lamunannya seolah ditarik kembali kedalam realita. Ia menghela napas panjang,
meletakkan kembali kepalan nasi ke pinggir piringnya. Ceh Candra mengambil kopi
yang ada di depannya, aroma Kopi Arabica yang sangat harum dan rasanya yang
pahit menjadi manis setelah di tambah gula, sama seperti kain kosong yang
menjadi lebih indah bila di tambahkan motif-motif kerawang, ia mulai menyeruput
kopinya lalu menghela napas, hal itu terus diulanginya sampai beberapa kali.
Pikirannya tertuju pada bayang-bayang anak muda zaman sekarang yang telinganya
lebih akrab pada musik modern dibandingkan dengan musik tradisional yang
merupakan warisan leluhurnya. Ia takut, jika nanti napasnya telah terhenti
tidak ada lagi yang bisa mewarisi budaya nenek moyang tentang Gayo. Bukan hanya
musik yang menjadi masalah nya, sekarang juga sudah jarang sekali ada anak muda
yang bisa menenun kerawang Gayo. Rasa cemas itu menumpuk di dadanya. Ia manatap
jemarinya yang sudah keriput, yang mungkin sebentar lagi tidak sanggup untuk
menepak bantal Didong.
Melihat kegelisahan itu, Istrinya
segera meraih tangan suaminya. Sentuhan hangat dari lembut tangan istrinya
membuat senyum yang tadinya sirna di wajah Ceh Candra kembali terukir, membuat
suasana kembali cair seolah ada kekuatan baru yang mengalir dari genggaman itu.
Teman-temannya pun memberikan senyuman tulus sebagai lambing semangat. Mereka
menyemangati Ceh Candra, menenangkannya, dan meyakinkannya bahwa budaya mereka
tidak akan punah termakan zaman selama masih ada yang mencintainya.
“selama mubunge ilen kupi I tanoh
tembune, Candra, Didongni gere pernah mate” (selama masih berbunga kopi di
tanah ini, Candra, Didong ini tidak pernah mati) ujar salah satu temannya
sambil menepuk bahunya.
Ceh Candra bertekad, mulai besok ia
akan mengumpulkan pemuda-pemudi di kampungnya untuk duduk bersama di teras
rumahnya untuk membicarakan hal ini. Ia ingin mengumoulkan minat dan bakat para
pemuda-pemudi terhadap kebudayaan Gayo serta mengajarkan dasar-dasar pukulan
bantal Didong agar iramanya tidak benar-benar sunyi. Tidak hanya itu, ia dan
istrinya juga berniat untuk mengajarkan para pemuda-pemudi di kampung belajar
menyulam motif-motif kerawang dan memberikan makna di balik warna-warna motif
kerawang. Juga mengajarkan Tari Guel yang biasa di pakai saat menyambut tamu
atau pun acara lainnya.
Ceh Candra telah menghayal bagaimana
nanti indahnya desa mereka dengan pemuda-pemudi yang terus melestarikan budaya
mereka. Di pinggir jalan terlihat wanita yang sedang menyulam kerawang, pemuda
yang sedang berlatih Didong dan sebagian lainnya menari Guel, betapa indahnya
itu. Ia teringat kembali tiga puluh tahun yang lalu, suasananya persis seperti
yang ada di dalam pikirannya. Semua anak maupun orang dewasa tetap melestarikan
kebudayaan Gayo. Anak-anak perempuan di ajari ibunya untuk memasak masakan Gayo
dan juga menyulam kerawang. Ceh Candra pun mewariskan menjadi seorang Ceh
menggantikan ayahnya yang dulu pun seorang Ceh.
Malam itu, di tengah rintik hujan yang
mulai mereda, Ceh Candra menatap Opoh Kerawang di bahunya. Ia sadar, tugasnya
bukan hanya melantunkan bait-bait indah, tetapi memastikan gema Didong terus
mengalir ke generasi berikutnya. Di dapur kecil yang hangat itu, di antara
aroma Masam Jing dan tawa sahabat, Ceh Candra menemukan kembali jiwanya. Hujan
mungkin bisa menghilangkan jejak kaki di Tanoh Gayo ini, namun ia tidak akan
pernah bisa melunturkan warna merah, kuning, dan hijau, yang sudah meresap
abadi dalam bentuk motif kerawang yang sudah ada di nadi mereka.
