[Cerpen] SEHELAI BENANG KERAWANG

SEHELAI BENANG KERAWANG
Nadila Ilmira

Tik, tik, tik, hujan turun dengan derasnya membasahi tanah serta dedaunan kopi yang mulai bermekaran. Di balik suara hujan yang menggemuruh, terdengar lantunan indah bait-bait Didong dan irama-irama syahdu yang keluar dari mulut Ceh Candra.

Ia duduk di atas  tikar pandan yang sudah mulai usang. Di bahunya, Opoh Kerawang melampai menutupi tubuhnya yang sudah mulai dimakan usia. Jemarinya yang sudah mulai keriput meraba tekstur kasar di atas Opoh Kerawang itu. Dari mulutnya, keluar bait indah tentang warna merah pada kerawang. Melambangkan keberanian masyarakat gayo.

Visual Gayo nya terasa begitu sempurna, perpaduan antara suara merdu bait Didong dari Ceh Candra, Opoh Kerawang yang menututupi tubuhnya, serta pukulan bantal yang memiliki irama senada terlihat begitu indah. Bait demi bait ia lantunkan dengan sangat merdu dan penuh dengan penghayatian di dalam dirinya membuat siapa saja yang mendengarnya seakan tenggelam oleh irama syahdunya.

Suara indahnya seakan menelan suara hujan yang sedang membasahi Tanoh Gayo. Pukulan bantalanya yang senada, tak, tung, tak, adalah suara yang timbul bukan dari kerasnya pukulan, melainkan dari ledalaman rasa yang di rasakan pemain Didong saat memukul bantalnya. Di tengah harmoni yang sedang di lantunkan, Ceh Candra menyisipkan satu bait yang membuat bulu kuduk meremang:

Ike sara benanggere sanggup muneten beban. Tapi ike I jalin ken Opoh Kerawang, nge pasti pas mujege rembege aria bengi ni kuyu” (jika satu benang tidak sanggup menahan beban. Tapi  jika jika dibuat kain kerawang sudah pasti melindungi badan dari dinginnya angin)

Suara nya bergetar saat ia melantunkan bait tersebut. Makna syair itu rasanya seperti menghantam batinnya sendiri. Sehelai benang memang rapuh, ia akan putus jika menahan beban sendirian. Tetapi ketika benang-benang itu telah menyatu saling mengikat menjadi motif-motif kerawang di atas kain ia akan mampu menjadi perisai dari dinginnya malam di pegunungan Gayo yang menusuk tulang. Itu juga mengingatkan akan pentingnya kebersamaan bagi masyarakat Gayo. tidak ada kopi yang tumbuh subur tanpa do’a tetangga, dan tidak ada Didong yang berirama tanpa sahutan kawan seiring.

Setelah selesai dengan Didongnya, Ceh Candra dan teman-teman Didong nya segera bangkit dari duduknnya dan mulai berjalan menuju dapur. Saat mendekati dapur, sudah tercium aroma segar dan asam dari Masam Jing yang sedang dimasak oleh istrinya Ceh Candra, aroma Kopi Gayo memenuhi ruangan kecil itu. Di hadapan mereka terlihat meja kayu tua yang sudah usang namun bersih, diatasnya terhidang beberapa piring yang berisi masakan-masakan khas Gayo: Masam Jing, Pengat Ikan Depik, Empan, dan tentu saja Kopi Gayo yang masi panas di tengah dinginnya suasana hujan.

Suasana dapur yang sederhana itu terasa sangat hangat walau udara di luar sangat dingin, kebersamaan mereka membuat suasana yang tadinya terasa dingin menjadi semakin hangat. Suara canda dan tawa ria memenuhi ruangan dapur yang hanya berdindingkan kayu jati itu. Gelakan serta candaan garing khas bapak-bapak itu membuat tawa pecah di tempat yang sangat sederhana itu. Mereka mengambil masing-masing piring untuk wadah mereka makan.

Makanan yang disajikan terasa lezat saat mereka menyendokkannya ke mulut mereka. Bukan hanya dari rasa Ikan Depik khas Danau Lut Tawar yang lezat di campur dengan rempah-rempah yang kaya dengan rasa, tetapi juga kebersamaan mereka membuat rasanya semakin terasa lezat. Masam Jing dengan rasa yang asam dengan sedikit pedas di campur dengan nasi yang masih hangat sangat cocok di makan di saat suasana dingin seperti itu. Empan yang rasanya gurih membuat sempurna rasa makanan mereka.

Di tengah hangatnya suasana dapur yang masih dibarengi dengan obrolan ringan, tiba tiba Ceh Candra terdiam. Tangannya yang baru saja hendak menyuapkan nasi terhenti di udara. Rasanya seperti nafsu makannya hilang begitu saja. Ia tenggelam dalam lamunannya menatap piring yang masih penuh dengan makanan, berfikir keras tentang sesuatu yang jauh di luar dinding dapur itu. Hal itu tentu saja membuat teman-temannya merasa aneh. Satu persatu dari mereka ikut meletakkan sendok, mata mereka tertuju pada Ceh Candra yang kini nampak cemas dan gelisah. Suasana yang tadinya di penuhi dengan suara tawa kini mendadak senyap, hawa dinginnya mulai terasa menusuk badan. Suara rintikan hujan menghantam atap seng dan detakan jam yang kini seolah menjadi lebih keras karena keheningan itu.

“ama, hanati lagu pebening? Hana si pikiri, ama?” (ama, kenapa tiba-tiba diam? Apa yang ama pikirin?) Tanya istrinya yang mulai khawatir melihat Ceh Candra yang tiba-tiba melamun.

Ceh Candra tesentak, tersadar dari lamunannya seolah ditarik kembali kedalam realita. Ia menghela napas panjang, meletakkan kembali kepalan nasi ke pinggir piringnya. Ceh Candra mengambil kopi yang ada di depannya, aroma Kopi Arabica yang sangat harum dan rasanya yang pahit menjadi manis setelah di tambah gula, sama seperti kain kosong yang menjadi lebih indah bila di tambahkan motif-motif kerawang, ia mulai menyeruput kopinya lalu menghela napas, hal itu terus diulanginya sampai beberapa kali. Pikirannya tertuju pada bayang-bayang anak muda zaman sekarang yang telinganya lebih akrab pada musik modern dibandingkan dengan musik tradisional yang merupakan warisan leluhurnya. Ia takut, jika nanti napasnya telah terhenti tidak ada lagi yang bisa mewarisi budaya nenek moyang tentang Gayo. Bukan hanya musik yang menjadi masalah nya, sekarang juga sudah jarang sekali ada anak muda yang bisa menenun kerawang Gayo. Rasa cemas itu menumpuk di dadanya. Ia manatap jemarinya yang sudah keriput, yang mungkin sebentar lagi tidak sanggup untuk menepak bantal Didong.

Melihat kegelisahan itu, Istrinya segera meraih tangan suaminya. Sentuhan hangat dari lembut tangan istrinya membuat senyum yang tadinya sirna di wajah Ceh Candra kembali terukir, membuat suasana kembali cair seolah ada kekuatan baru yang mengalir dari genggaman itu. Teman-temannya pun memberikan senyuman tulus sebagai lambing semangat. Mereka menyemangati Ceh Candra, menenangkannya, dan meyakinkannya bahwa budaya mereka tidak akan punah termakan zaman selama masih ada yang mencintainya.

“selama mubunge ilen kupi I tanoh tembune, Candra, Didongni gere pernah mate” (selama masih berbunga kopi di tanah ini, Candra, Didong ini tidak pernah mati) ujar salah satu temannya sambil menepuk bahunya.

Ceh Candra bertekad, mulai besok ia akan mengumpulkan pemuda-pemudi di kampungnya untuk duduk bersama di teras rumahnya untuk membicarakan hal ini. Ia ingin mengumoulkan minat dan bakat para pemuda-pemudi terhadap kebudayaan Gayo serta mengajarkan dasar-dasar pukulan bantal Didong agar iramanya tidak benar-benar sunyi. Tidak hanya itu, ia dan istrinya juga berniat untuk mengajarkan para pemuda-pemudi di kampung belajar menyulam motif-motif kerawang dan memberikan makna di balik warna-warna motif kerawang. Juga mengajarkan Tari Guel yang biasa di pakai saat menyambut tamu atau pun acara lainnya.

Ceh Candra telah menghayal bagaimana nanti indahnya desa mereka dengan pemuda-pemudi yang terus melestarikan budaya mereka. Di pinggir jalan terlihat wanita yang sedang menyulam kerawang, pemuda yang sedang berlatih Didong dan sebagian lainnya menari Guel, betapa indahnya itu. Ia teringat kembali tiga puluh tahun yang lalu, suasananya persis seperti yang ada di dalam pikirannya. Semua anak maupun orang dewasa tetap melestarikan kebudayaan Gayo. Anak-anak perempuan di ajari ibunya untuk memasak masakan Gayo dan juga menyulam kerawang. Ceh Candra pun mewariskan menjadi seorang Ceh menggantikan ayahnya yang dulu pun seorang Ceh.

Malam itu, di tengah rintik hujan yang mulai mereda, Ceh Candra menatap Opoh Kerawang di bahunya. Ia sadar, tugasnya bukan hanya melantunkan bait-bait indah, tetapi memastikan gema Didong terus mengalir ke generasi berikutnya. Di dapur kecil yang hangat itu, di antara aroma Masam Jing dan tawa sahabat, Ceh Candra menemukan kembali jiwanya. Hujan mungkin bisa menghilangkan jejak kaki di Tanoh Gayo ini, namun ia tidak akan pernah bisa melunturkan warna merah, kuning, dan hijau, yang sudah meresap abadi dalam bentuk motif kerawang yang sudah ada di nadi mereka.


Tentang Penulis :
Nadila Ilmira adalah siswa SMAN 5 Takengon yang aktif menulis Cerpen 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama