Oleh : M. Yusuf Al Jabbar
"Hidupku berubah bukan karena memenangkan perlombaan, bukan pula karena diterima di perguruan tinggi. Semuanya bermula ketika aku jatuh cinta kepada sebuah bahasa yang dahulu sering dipandang sebelah mata: Bahasa Arab."
Namaku Yusuf. Aku sering tersenyum setiap kali seseorang bertanya, "Mengapa memilih Jurusan Pendidikan Bahasa Arab?" Pertanyaan itu hampir selalu membuatku tersenyum. Bukan karena aku sulit menjawabnya, tetapi karena setiap kali mendengarnya, ingatanku selalu kembali pada sebuah ruang kelas sederhana di sebuah SMA negeri, tempat sebuah bahasa diam-diam mengubah seluruh jalan hidupku.
Aku bukanlah seseorang yang namanya pernah memenuhi halaman surat kabar. Aku bukan pula seseorang yang lahir dari keluarga ulama besar atau mengenyam pendidikan di sekolah unggulan. Aku hanyalah seorang alumni sebuah SMA negeri di pelosok daerah, sekolah yang mungkin tak banyak dikenal orang. Namun, dari tempat yang sederhana itulah aku belajar bahwa sebuah bahasa mampu mengubah arah kehidupan seseorang.
Jika orang bertanya kepadaku, "Apa yang paling berharga yang kamu dapatkan selama SMA?"
Jawabanku selalu sama.
Bahasa Arab.
Lucunya, ketika aku masih menjadi siswa, bahasa itu justru sering dianggap tidak penting.
Di sekolahku, Bahasa Arab bukan mata pelajaran favorit. Bahkan, sebagian siswa menganggapnya hanya pelengkap jadwal. Jam pelajarannya sedikit, gurunya hanya seorang, dan fasilitas pembelajaran sangat terbatas. Tidak ada laboratorium bahasa, tidak ada perpustakaan dengan koleksi kitab Arab yang lengkap, apalagi program khusus untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.
Sebagian orang berpikir, Bahasa Arab hanya cocok dipelajari di pesantren. Di SMA negeri, katanya, lebih baik fokus pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional atau yang dianggap memiliki masa depan lebih menjanjikan.
Aku sering mendengar kalimat seperti itu.
Tetapi entah mengapa, setiap kali melihat huruf-huruf Arab memenuhi halaman kitab, hatiku selalu merasa tenang. Seakan ada sesuatu yang memanggilku untuk terus mengenalnya lebih dekat.
Aku memang bukan santri mukim.
Aku hanyalah seorang santri kalong.
Pagi hingga siang aku mengenakan seragam putih abu-abu sebagai siswa SMA negeri. Sore menjelang malam, aku berpindah menjadi santri yang berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Kadang belajar di pesantren, kadang di masjid kampung, kadang di langgar kecil, bahkan sering pula duduk di ruang tamu rumah guru agama yang dengan sabar mengajarkan kami kitab-kitab dasar.
Sepulang sekolah, sementara teman-temanku beristirahat atau bermain, aku bergegas mengambil kitab kuning yang mulai usang. Malam hari kuhabiskan mempelajari nahwu, sharaf, sedikit demi sedikit mufradat, lalu mencoba menerjemahkan kalimat Arab yang bahkan belum sepenuhnya kupahami.
Tidak ada yang menyuruhku.
Aku hanya jatuh cinta.
Bahasa Arab mengajarkanku kesabaran. Ia tidak mudah dipahami. Satu kata bisa berubah makna hanya karena perubahan harakat. Satu kaidah bisa memiliki puluhan pengecualian. Berkali-kali aku salah membaca kitab. Berkali-kali pula guruku membetulkan bacaanku dengan senyum yang tidak pernah bosan.
"Dalam ilmu," kata beliau suatu malam, "kesalahan bukanlah aib. Berhenti belajar itulah aib."
Kalimat itu terus kuingat.
Belajar dan latihanku untuk belajar bahasa bisa dikatakan cukup sederhana. Tidak ada kelas khusus. Tidak ada bimbingan intensif. Guru Bahasa Arab kami sendirian menangani semuanya. Beliau harus mengajar seluruh kelas sekaligus membimbingku di sela-sela kesibukannya.
Sisanya kulanjutkan sendiri.
Aku membuka kamus setiap hari. Mengulang kaidah nahwu hingga larut malam. Menghafal mufradat saat perjalanan ke sekolah. Mengerjakan soal-soal latihan yang kudapat dari internet dengan jaringan yang sering terputus. Perjalanan itu tidak mudah.
Banyak yang mempertanyakan pilihanku.
"Apa gunanya belajar Bahasa Arab sedalam itu?"
"Memangnya nanti mau jadi apa?"
Aku hanya tersenyum.
Karena saat itu pun aku belum tahu jawabannya.
Sekolah, guru bahasa Arabku melihat semangat yang berbeda. Beliau sering memberiku buku tambahan, soal-soal latihan, bahkan fotokopi materi yang beliau kumpulkan sendiri.
"Kalau kamu terus belajar, suatu hari kamu akan membuktikan bahwa bahasa Arab juga bisa mengharumkan nama sekolah."
Kalimat itu melekat kuat di dalam ingatanku.
Suatu ketika, guru Bahasa Arab memasuki kelas sambil membawa selembar surat pemberitahuan.
"Anak-anak, ada Olimpiade Bahasa Arab."
Seluruh kelas hening. Tidak banyak yang tertarik mengikutinya.
Sebagian besar bahkan baru pertama kali mendengar bahwa ada olimpiade khusus Bahasa Arab.
Bahkan ada yang berkata, "Memangnya sekolah kita pernah ikut?"
Belum.
Beliau memandang ke arahku.
"Bagaimana kalau kamu ikut?"
Aku terdiam.
Aku bukan siswa yang berasal dari sekolah berbasis agama. Aku hanyalah siswa SMA Negeri yang kebetulan menyukai Bahasa Arab. Bekalku bukan berasal dari sekolah, melainkan dari pengajian di pesantren, masjid, langgar, dan rumah guru-guru agama di kampung.
"Kalau Ibu yakin, saya siap mencoba."
Beliau tersenyum.
"Saya tidak hanya yakin. Saya percaya."
Sejak hari itu kehidupanku berubah.
Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang. Aku belajar bersama guru Bahasa Arab di ruang kelas yang mulai sepi. Kami mengerjakan soal-soal Olimpiade tahun sebelumnya, menerjemahkan teks Arab, mengulang kaidah nahwu dan sharaf, melatih istima', qira'ah, bahkan sesekali berbicara sederhana dalam Bahasa Arab.
Karena keterbatasan buku, beliau mencari bahan dari internet. Karena sekolah tidak memiliki banyak referensi, beliau meminjam buku dari teman-temannya. Bahkan beberapa kali beliau mencetak soal latihan menggunakan uang pribadinya.
Suatu sore ketika aku mulai mengeluh karena sulit memahami sebuah teks, beliau berkata,
"Kita memang tidak punya banyak fasilitas. Tapi kita punya semangat."
Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar yang terus menghidupkan langkahku.
Hari seleksi tingkat kabupaten akhirnya tiba.
Aku datang mengenakan seragam sekolah dengan jantung berdebar.
Di sekelilingku kulihat peserta dari berbagai madrasah aliyah dan sekolah Islam. Sebagian mengenakan jas almamater sekolah unggulan. Dari percakapan mereka, aku mengetahui bahwa mereka telah lama mengikuti pembinaan khusus Bahasa Arab.
Aku menunduk sejenak.
"Apakah aku salah tempat?"
Namun sebelum memasuki ruang ujian, guruku menepuk pundakku.
"Jangan lihat dari mana mereka berasal. Lihatlah soal di hadapanmu."
Aku menarik napas panjang.
Satu demi satu soal kuselesaikan.
Hari-hari setelahnya terasa begitu lama hingga akhirnya pengumuman keluar.
Namaku berada di peringkat kedua tingkat kabupaten.
Aku tidak percaya. Hasil itu sudah cukup untuk mengantarkanku menjadi salah satu wakil kabupaten pada Olimpiade Bahasa Arab tingkat provinsi.
Guru pembimbingku berkaca-kaca.
Persiapan menuju tingkat provinsi jauh lebih berat.
Pagi aku belajar di sekolah.
Sore mengikuti pengajian di pesantren.
Malam berpindah ke rumah guru mengaji atau belajar sendiri hingga larut.
Hari-hariku dipenuhi kitab, kamus, catatan nahwu, sharaf, mufradat, dan latihan-latihan soal.
Kadang tubuh terasa sangat lelah.
Namun setiap kali membuka kitab yang telah penuh coretan para guru, semangatku tumbuh kembali.
Aku sadar bahwa perjuangan ini bukan hanya milikku.
Di belakangku ada guru sekolah yang bekerja tanpa mengenal waktu.
Ada para guru ngaji kampung yang dengan ikhlas menanamkan dasar-dasar ilmu sejak aku kecil.
Dan ada sekolah sederhana yang diam-diam berharap dapat menunjukkan bahwa sekolah negeri pun mampu berprestasi dalam Bahasa Arab.
Hari Olimpiade tingkat provinsi tiba.
Peserta kali ini jauh lebih hebat. Mereka berasal dari berbagai kabupaten dan kota. Banyak yang datang dari madrasah unggulan dengan program Bahasa Arab khusus.
Babak demi babak kulalui. Ada soal pilihan ganda, pemahaman teks Arab, serta gramatika bahasa yang mencakup nahwu dan sharaf.
Setelah semua selesai, aku hanya mampu berdoa.
Saat pengumuman dimulai, jantungku berdetak sangat cepat.
"...Juara Pertama..."
Namaku dipanggil.
Aku membeku beberapa detik. Aku menoleh ke arah guru pembimbingku. Beliau menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ketika namaku dipanggil, beliau justru lebih dahulu menangis daripada aku.
Beliau segera memelukku.
"Alhamdulillah... akhirnya kita berhasil."
Air mataku jatuh tanpa mampu kutahan.
Piala itu bukan hanya milikku.
Piala itu milik guru yang mengajar sendirian.
Milik sekolah yang selama ini dianggap tidak unggul dalam Bahasa Arab.
Milik para guru ngaji di kampung yang tanpa sadar telah membentuk dasar ilmuku.
Dan kemenangan itu mengantarkanku menjadi wakil provinsi pada Olimpiade Bahasa Arab tingkat nasional.
Beberapa hari kemudian, ketika aku kembali ke sekolah, kepala sekolah mengumumkan prestasi itu saat upacara bendera. Untuk pertama kalinya prestasi di bidang Bahasa Arab mendapat apresiasi di hadapan seluruh warga sekolah. Saat itulah aku merasa bahasa yang dahulu dipandang sebelah mata mulai memperoleh tempat di sekolahku.
Perjalanan menuju tingkat nasional menjadi pengalaman yang tak pernah kulupakan.
Untuk pertama kalinya aku bertemu peserta dari seluruh Indonesia di ibukota, Jakarta.
Di sanalah aku menyadari betapa luas dunia Bahasa Arab.
Ada yang telah belajar sejak sekolah dasar.
Ada yang berasal dari pesantren modern.
Ada yang terbiasa berbicara dalam Bahasa Arab setiap hari.
Aku kembali merasa kecil.
Namun kali ini aku tidak ingin takut.
Aku datang bukan untuk membandingkan diriku dengan siapa pun.
Aku datang untuk memberikan yang terbaik.
Aku mengikuti seluruh rangkaian perlombaan dengan sungguh-sungguh.
Menjawab setiap soal sesuai kemampuan.
Berbicara dalam Bahasa Arab meski sesekali masih gugup.
Dan menikmati setiap prosesnya.
Ketika pengumuman juara dibacakan, namaku tidak termasuk di dalamnya.
Aku gagal membawa pulang medali nasional. Untuk beberapa saat aku hanya memandang panggung tanpa benar-benar melihat apa pun. Di ruangan itu, tepukan tangan bergema untuk para juara. Aku ikut bertepuk tangan sambil menahan senyum yang terasa begitu berat. Ketika peserta lain naik ke atas panggung, aku hanya mampu menundukkan kepala. Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa perjuangan berbulan-bulan seakan runtuh dalam beberapa detik. Ketika seluruh peserta saling berfoto dengan medali di dada mereka, aku memilih berdiri di sudut ruangan. Untuk beberapa saat aku bahkan tidak berani membuka ponsel. Aku takut mengecewakan guru-guruku yang sejak awal begitu percaya kepadaku.
Keesokan harinya, di dalam pesawat yang membawaku pulang dari Jakarta, aku memandangi langit dari balik jendela. Piala juara provinsi yang dahulu begitu kubanggakan kini terasa begitu kecil dibandingkan kecewa yang memenuhi dadaku. Berkali-kali aku bertanya kepada diri sendiri, "Apakah semua perjuangan ini belum cukup?"
Sesampainya di sekolah, guru Bahasa Arab telah menungguku.
Beliau menyambutku dengan senyum yang sama seperti saat pertama kali mengajakku mengikuti olimpiade.
Beliau berkata pelan,
"Kamu mungkin tidak membawa pulang medali nasional. Tetapi kamu telah membawa nama sekolah ini sampai ke panggung nasional. Tidak pernah ada yang melakukannya sebelumnya."
Kalimat itu menghapus seluruh rasa kecewaku.
Aku baru menyadari bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk medali.
Kadang kemenangan adalah keberanian untuk membuka jalan bagi orang lain.
Kadang kemenangan adalah membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Kadang kemenangan adalah membuat orang-orang mulai percaya bahwa Bahasa Arab juga layak diperjuangkan.
Masa-masa terakhir di bangku SMA adalah masa yang paling ramai sekaligus paling membingungkan.
Di setiap sudut kelas selalu ada pembicaraan tentang masa depan.
"Aku mau ambil Kedokteran."
"Kalau aku Teknik."
"Ayah menyuruhku masuk Akuntansi."
"Kayaknya aku pilih Informatika saja."
Obrolan seperti itu terdengar hampir setiap hari. Satu per satu teman-temanku mulai menentukan arah hidupnya. Mereka sibuk mengikuti bimbingan masuk perguruan tinggi, mencari informasi jurusan, dan menghitung peluang diterima di kampus impian.
Ketika mereka bertanya kepadaku, aku hanya tersenyum.
"Kalau kamu mau ambil jurusan apa?"
Aku menjawab dengan mantap,
"Pendidikan Bahasa Arab."
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Lalu terdengar berbagai tanggapan.
"Serius?"
"Kenapa Bahasa Arab?"
"Bukannya lebih bagus ambil jurusan yang peluang kerjanya besar? Sayang sekali nilai kamu kalau cuma masuk jurusan itu."
Bahkan ada yang menambahkan dengan nada heran,
"Kamu masuk kampus Islam? Sayang sekali. Dengan nilaimu, kamu bisa masuk universitas yang lebih bergengsi."
Ada pula yang berbisik,
"Kenapa harus Pendidikan Bahasa Arab? Lulus nanti memang mau jadi apa?"
Aku hanya tersenyum.
Aku tahu, bukan mereka yang salah. Mereka hanya tumbuh di tengah anggapan bahwa keberhasilan sering kali diukur dari nama besar kampus dan jurusan yang dianggap bergengsi. Di lingkungan tempatku tumbuh, masih ada yang memandang perguruan tinggi keagamaan Islam sebagai pilihan setelah tidak berhasil masuk ke kampus lain.
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab pun kerap dianggap sempit, kurang menjanjikan, dan tidak memiliki masa depan yang cerah.
Padahal, bagiku, sebuah jurusan bukan menjadi mulia karena banyak dipilih orang, melainkan karena di sanalah seseorang dapat mengembangkan ilmu yang dicintainya dan memberi manfaat bagi orang lain. Aku tidak marah. Aku memahami mengapa mereka bertanya demikian. Selama ini Bahasa Arab memang selalu berada di pinggir perhatian. Di sekolahku, mata pelajaran itu hanya mendapat sedikit jam pelajaran, gurunya hanya satu orang, bahkan peminatnya pun bisa dihitung dengan jari.
Mereka tidak pernah melihat malam-malam yang kuhabiskan berpindah dari Pesantren, Langgar, masjid, hingga rumah guru agama untuk mempelajari nahwu, sharaf, dan kitab-kitab Arab. Mereka juga tidak melihat bagaimana bahasa itu akhirnya membawaku menjadi Juara Olimpiade Bahasa Arab tingkat Provinsi dan mewakili sekolah hingga tingkat nasional.
Benar, aku tidak berhasil membawa pulang medali nasional.
Namun justru dari kegagalan itulah aku menemukan tujuan hidupku.
Aku sadar bahwa aku tidak ingin sekadar menjadi orang yang pandai berbahasa Arab.
Aku ingin menjadi orang yang membuat lebih banyak siswa mencintai bahasa ini.
Aku ingin membuktikan bahwa siswa SMA negeri pun mampu bersaing dalam bidang Bahasa Arab. Aku ingin menghadirkan pembelajaran yang membuat bahasa ini tidak lagi dianggap sulit, asing, atau nomor dua.
Karena itulah, ketika semua orang sibuk mengejar jurusan yang menurut mereka menjanjikan masa depan, aku justru mengejar jurusan yang telah lebih dahulu mengubah masa depanku.
Malam sebelum pendaftaran ditutup, Ibu bertanya pelan,
"Kamu benar-benar yakin dengan pilihanmu?"
Aku mengangguk.
"Iya, Bu. Dulu Bahasa Arab yang membawaku mengharumkan nama sekolah hingga ke tingkat nasional. Mungkin aku tidak menjadi juara di sana, tetapi justru dari perjalanan itu aku menemukan jalan hidupku. Aku ingin menjadi guru yang kelak mampu membuat lebih banyak siswa SMA negeri mencintai Bahasa Arab, sebagaimana guruku dahulu menumbuhkan kecintaan itu dalam diriku."
Ibu tersenyum sambil menggenggam tanganku.
"Kalau itu pilihanmu, jalani dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah merasa rendah hanya karena jalan yang kamu pilih berbeda dengan kebanyakan orang."
Malam itu aku menekan tombol "kirim" pada formulir pendaftaran ke Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dengan pilihan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.
Anehnya, tidak ada sedikit pun keraguan di dalam hatiku.
Untuk pertama kalinya aku merasa tidak sedang memilih sebuah jurusan.
Aku sedang melanjutkan perjalanan yang telah dimulai oleh Bahasa Arab bertahun-tahun sebelumnya.
Hari pengumuman penerimaan mahasiswa baru akhirnya tiba.
Aku memejamkan mata beberapa saat. Di benakku terlintas wajah guru Bahasa Arabku, para guru ngaji di pesantren, masjid dan kampung, ruang kelas sederhana, kitab-kitab yang penuh coretan, hingga langit Jakarta yang pernah menjadi saksi kegagalanku. Perjalanan panjang itu akhirnya membawaku ke satu tujuan yang sejak awal mungkin telah Allah tetapkan. Tanganku gemetar saat membuka hasilnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah tulisan muncul di layar.
"Selamat! Anda dinyatakan lulus pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab."
Aku tersenyum.
Aku teringat guru Bahasa Arabku di SMA, guru-guru yang mengajariku di pesantren, masjid, langgar, dan rumah-rumah sederhana mereka. Aku juga teringat kedua orang tuaku yang selalu mendoakan setiap langkahku.
Saat itulah aku benar-benar yakin bahwa keputusan yang dahulu dipertanyakan banyak orang ternyata menjadi keputusan yang mengubah seluruh arah hidupku.
Beberapa hari setelah dinyatakan lulus, aku kembali ke sekolah. Aku menemui guru Bahasa Arabku di ruang guru yang dulu hampir setiap sore menjadi tempat kami belajar. Ketika kuberitahukan bahwa aku memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, beliau hanya tersenyum.
"Alhamdulillah," ucap beliau pelan. "Sekarang giliranmu melanjutkan apa yang dulu kami mulai."
Aku mengangguk. Di hadapan guru yang dahulu pertama kali percaya kepadaku, aku sadar bahwa cita-cita menjadi guru bukan lagi sekadar impian. Ia telah menjadi amanah.
Hari ini aku menulis kisah ini sebagai seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Aku masih mengingat ruang kelas sederhana itu.
Masih mengingat satu-satunya guru Bahasa Arab di sekolahku.
Masih mengingat para guru ngaji di pesantren, masjid, langgar, dan rumah-rumah sederhana di kampung yang dengan tulus mengajariku mengenal bahasa Al-Qur'an.
Seandainya dahulu aku tidak memberanikan diri menerima ajakan guruku, mungkin jalan hidupku akan berbeda.
Bahasa Arab bukan sekadar membawaku menuju sebuah perlombaan.
Ia mengubah cara pandangku tentang ilmu, perjuangan, dan masa depan.
Suatu hari nanti aku ingin kembali berdiri di depan kelas sebagai guru Bahasa Arab.
Aku ingin menjadi seseorang yang mampu menyalakan semangat pada siswa-siswa yang belajar dengan fasilitas sederhana, sebagaimana dahulu guruku menyalakan semangat itu dalam diriku.
Namun setiap kali melihat adik-adik kelas ku dulu mulai mencintai Bahasa Arab, aku selalu teringat diriku yang dahulu.
Aku berharap suatu hari nanti akan lahir lebih
banyak siswa SMA negeri yang berani mencintai Bahasa Arab tanpa merasa rendah diri. Karena aku adalah saksi bahwa sebuah bahasa dapat mengubah jalan hidup seseorang.
Sebab aku percaya, sebuah bahasa dapat membuka jendela ilmu.
Dan bagiku, Bahasa Arab telah melakukan lebih dari itu.
Ia telah mengubah seluruh jalanku.
Dahulu aku mengira aku sedang belajar Bahasa Arab.
Ternyata selama ini Bahasa Arablah yang sedang menuntunku menuju jalan hidupku.
Sebuah bahasa mungkin tidak mampu mengubah seluruh dunia.
Namun sebuah bahasa mampu mengubah seluruh jalan hidup seseorang. Sebagaimana Bahasa Arab telah mengubah jalanku.
Banda Aceh, 23 April 2026


